login
Dennies Rossy Al Bumulo Taqobalallohu mina waminkum
blog post Dasar-dasar Memahami Tauhid
Posted in Aqidah on Dec 29, 2007 at 1:14 PM
Dasar-Dasar Memahami Tauhid

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab -Rahimahullah-



PENDAHULUAN


Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kelurusan ajaran Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah beribadah kepada Alah secara ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Alah berfirman [artinya]: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1:56)

Dan bila Anda telah tahu bahwasanya Alah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan bersuci.

Bila ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadatz (tidak suci). Alah berfirman [artinya]:"Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Alah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam neraka" (At-Taubah: 17)

Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri. Dan ibadah yang bercampur dengan syirik itu akan menggugurkan amal sehingga pelakunya menjadi penghuni neraka, Alah berfirman [artinya]: "Sesungguhnya Alah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (An-Nisaa': 48 )

Kemurnian ibadah akan mampu dicapai bila memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam firman-Nya.

KAIDAH PERTAMA
Engkau harus mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasululah shalalahu 'alaihi wa salam, mereka meyakini bahwa Alah sebagai Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfa'at, Yang memberi madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidak menyebabkan mereka sebagaimuslim, Alah berfirman:

"Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab:'Alah'. Maka katakanlah:'Mengapakamu tidakbertakwa[kepada-Nya]." (Yunus:31)

KAIDAH KEDUA

Mereka (musyrikin) berkata :"Kami tidak berdo'a kepada mereka (Nabi, orang-orang shalih dll) kecuali agar bisa mendekatkan kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi syafa'at. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka. Namun hal tersebut dilakukan dengan cara melalui syafaat dan mendekatkan diri kepada mereka".

Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]:"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alah (berkata):"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Alah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alah tidak menunjuki orang-orangyangpendusta dan sangat ingkar" ( Az-Zumar: 3)

Adapun dalil tentang syafa'at yaitu firman Allah [artinya]:"Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, dan mereka berkata:"Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:"Apakah kamu mengabarkan kepada Alah apa yang tidak diketahui-Nya dilangit dan tidak [pula] di bumi" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan[itu]." (Yuunus:18 )

Syafa'at itu ada 2 macam:

• Syafa'at munfiyah(yang ditolak)
• Syafa'at mutsbitah(yang diterima)

Syafa'at munfiyah adalah syafa'at yang dicari dari selain Allah. Sebab tidak seorangpun yang berkuasa dan berhak untuk memberikannya kecuali Allah, Allah berfirman [artinya]:"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orangyang zalim. (Al-Baqarah:254)

Adapun syafa'at mutsbitah adalah syafa'at yang dicari dari Allah. Pemberi syafa'at itu dimuliakan dengan syafa'at, sedangkan yang diberi hak untuk memberikan syafa'at adalah orang yang diridhai Alah, baik ucapan maupun perbuatannya setelah memperoleh izin-Nya. Allah berfirman [artinya]:"Siapakah yang mampu memberi syafa'at disamping Alah tanpa izin-Nya?"(Al-Baqarah:255)

KAIDAH KETIGA

Sesungguhnya Nabi shalalahu 'alaihi wa salam menerangkan kapada manusia tentang macam-macam sistem peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Diantara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan, diantara mereka ada pula yang menyembah orang-orangshaleh, paramalaikat, para wali, pepohonan, dan bebatuan.

Mereka semua diperangi oleh Rasululah shalalahu 'alaihi wa salam, dalilnya adalah firmanAllah [artinya]:"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya."(Al-Baqarah:193)

Sedangkan dalil larangan beribadah kepada matahari dan bulan adalah firman Alah [artinya]: "Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya,jika kamuhanyakepada-Nya saja menyembah."(Fushilat:37)

Dan dalil larangan beribadah kepada orang-orang shaleh adalah: "Katakanlah:'Panggilah mereka yang kamu anggap selain Alah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya'. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Alah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatuyang[harus]ditakuti.(Al-Ishra:56-57)

Adapun dalil tentang larangan beribadah kepada para malaikat adalah: "Dan [ingatlah] hari [yang di waktu itu] Alah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Alah berfirman kepada malaikat:"Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?" Malaikat-malaikat itu menjawab:"Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa [untuk memberikan] kemanfatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain.Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim:"Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu". (Saba': 40-42)

Larangan beribadah kepada para Nabi dalilnya:"Dan [ingatlah] ketika Alah berfirman:"Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:"Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Alah". 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku [mengatakannya] yaitu:"Sembahlah Allah, Rabku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."(Al-Maidah:116-118)

Adapun dalil tentang larangan penyembahan terhadap pepohonan, bebatuan adalah hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata: " Kami keluar bersama Rasululah shalalahu 'alaihi wa salam menuju Hunain. Kami adalah para pemuda yang telah mengenal bentuk-bentuk kesyirikan. Orang-orang musyrik mempunyai tempat duduk untuk beristirahat dan menggantungkan senjata. Tempat itu dikenal sebagai Dzatu Anwath. Lalu kami melalui pohon bidara dan [sebagian] kami mengatakan: "Wahai Rasululah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki. Maka Nabi shalalahu 'alaihi wasalam bersabda: "Alahu Akbar, itu adalah assunnan (jalan), kamu kamu telah mengatakan -demi dzat yang menguasai diriku-sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa, "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)". Musa menjawab:"Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh". Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab:"Patutkah aku mencari Ilah untuk kamu yang selain dari pada Alah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." (Al-A'raf:138-140)

KAIDAH KEEMPAT

Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo'a secara ikhlas kepada Alah ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan senang.

Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana diterangkan Alah dalam Al-Qur'an: "Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo'a kepada Alah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya, maka tatkala Alah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Alah], agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang [dalam kekafiran]. Kelak mereka akan mengetahui[akibatperbuatannya]." (Al-Ankabut:65-66)


blog post Pembatal-pembatal Ke Islaman
Posted in Aqidah on Dec 26, 2007 at 3:36 PM
BEBERAPA HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN

Dinukil dari Lembaga Riset ilmiah dan Fatwa

di sahkan oleh Samahatusy-Syaikh Muhammad Bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah

Diterbitkan Departemen Agama, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Islam di Indonesia

Diedarkan di bawah pengawasan Direktorat Percetakan dan Penerbitan Indonesia

Saudaraku seagama! Ketahuilah, bahwa ada beberapa hal yang dapat membatalkan keislaman seseorang, dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh macam yang wajib di hindari, yaitu:

PERTAMA :

Mempersekutukan Allah Subhanahu Wata'ala dalam ibadah, Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah Subhanahu Wata'ala, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya (kelak) adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.

Dan diantara perbuatan syirik tersebut ialah : berdo’a dan memohon pertolongan kepada orang-orang yang telah mati, begitu pula bernadzar dan menyembelih kurban demi mereka.

KEDUA :

Barangsiapa yang menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wata'ala, berdo’a dan memohon syafa’at serta bertawakkal kepada perantara tersebut maka hukumnya KAFIR menurut kesepakatan para ulama (ijma’).

KETIGA :

Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu akan kekafiran mereka, atau membenarkan paham (madzhab) mereka, maka dengan demikian dia telah KAFIR.

KEEMPAT :

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa selain tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam itu lebih sempurna, atau selain ketentuan hukum beliau lebih baik, sebagaimana mereka yang mengutamakan aturan-aturan manusia yang melampaui batas lagi menyimpang dari hukum Allah Subhanahu Wata'ala (aturan-aturan thogut), dan mengenyampingkan hukum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam, maka yang berkeyakinan seperti ini adalah KAFIR.

Sebagai contoh :

1. Berkeyakinan bahwa aturan-aturan dan perundang-undangan yang diciptakan manusia lebih utama daripada syari’at Islam, atau berkeyakinan bahwa aturan Islam tidak layak untuk diterapkan pada abad modern ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu khusus mengatur hubungan manusia dengan tuhannya saja, tidak mengatur segi kehidupan lain.
2. Berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah Subhanahu Wata'ala seperti memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina yang telah kawin (mukhsan) tidak cocok lagi dengan zaman sekarang.
3. Berkeyakinan bahwa boleh menggunakan selain hukum Allah Subhanahu Wata'ala dalam segi mu’amalat syari’ah (seperti perdagangan, sewa menyewa dan lain sebagainya), atau dalam hukum pidana, atau lainnya, sekalipun tidak disertai dengan keyakinan bahwa hukum-hukum tersebut lebih utama dari Syari’at Islam. Karena dengan demikian berarti ia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala menurut kesepakatan para ulama (ijma’) sedangkan setiap orang yang menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala dalam agama, seperti : berzina, minum khamr (segala minuman yang memabukkan), riba, dan menggunakan undang-undang selain syari’at Allah Subhanahu Wata'ala, maka ia adalah KAFIR menurut kesepakatan para ulama (ijma’).

KELIMA :

Barangsiapa yang membenci sesuatu yang telah di tetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam sebagai syari’at beliau, sekalipun ia ikut mengamalkannya, maka ia menjadi KAFIR, karena Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

“Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka.”

KEENAM :

Barangsiapa yang memperolok-olok Allah Subhanahu Wata'ala, atau kitabNya, atau RosulNya, atau sesuatu yang merupakan ajaran agamaNya, maka ia menjadi KAFIR, karena Allah Subhanahu Wata'ala telah berfirman :

“Katakanlah (wahai Muhammad) : “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah KAFIR setelah beriman.”

KETUJUH :

Sihir, diantaranya adalah ilmu guna-guna (sharf) yaitu : merobah kecintaan seorang suami kepada istrinya menjadi kebencian, begitu juga ilmu pekasih (‘Athf) yaitu : menjadikan seseorang mencintai sesuatu yang tidak disenanginya dengan cara-cara syaiton. Maka barangsiapa yang mengerjakan hal-hal tersebut, atau senang dan rela dengannya berarti ia telah KAFIR, karena Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

“Sedangkan kedua malaikat itu tidak mengajarkan (suatu sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan, sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.”

KEDELAPAN :

Membantu dan menolong orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin, karena Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

“Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim.”

KESEMBILAN :

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam, maka ia adalah KAFIR, karena Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

KESEPULUH :

Berpaling dari agama Allah Subhanahu Wata'ala, atau dari hal-hal yang menjadi syarat mutlak sebagai muslim, dengan tanpa mempelajarinya dan tanpa mengamalkannya, karena Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

“Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.”

Dan Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman :

“Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.”

Dalam hal-hal yang membatalkan keislaman ini, tidak ada bedanya antara yang main-main dan yang sungguh-sungguh sengaja melanggar dan yang karena takut, terkecuali yang dipaksa.

Kita berlindung pada Allah Subhanahu Wata'ala dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaannya dan kepedihan siksaNya.



blog post Hukum Menyambut hari Raya non Muslim
Posted in Aqidah on Dec 24, 2007 at 11:40 AM
Hukum menyambut dan merayakan hari Raya non Muslim (Natal/Tahun Baru/Imlek, red)

Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi’ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi’ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya) : ” Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi bersabda, “Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”
[Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah ; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala’ (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makanan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka (kini kebanyakan berpesiar, berlibur ke tempat wisata, konser, acara musik, diakhiri mabuk-mabukan atau perzinaan, red).

Dan diantaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para shahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikhul Islam Ibnu Timiyah berkata, “Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan”.

Pertama. Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena
mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari’atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan Kedua.
Karena hal itu adalah bid’ah yang diada adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu”.

Beliau juga mengatakan, “Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi’ar mereka pada hari itu. (Dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim, pentahqiq Dr Nashir Al-’Aql 1/425-426).

Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja [1] maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran.

Segolongan ulama mengatakan. “Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi”. Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Siapa yang mengikuti negera-negara ‘ajam (non Islam) dan melakukan perayaan Nairuz [2] dan Mihrajan [3] serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.

Footnote :
[1] Mungkin yang dimaksud (yang benar) adalah ‘tanpa sengaja’.
[2] Nairuz atau Nauruz (bahasa Persia) hari baru, pesta tahun baru Iran yang
bertepatan dengan tanggal 21 Maret -pent.
[3] Mihrajan, gabungan dari kata mihr (matahari) dan jan (kehidupan atau
ruh), yaitu perayaan pada pertengahan musim gugur, di mana udara tidak panas
dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta yang diadakan untuk
hari bahagia -pent.

(Dinukil dari tulisan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy[Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1])

Bagaimana semestinya sikap Muslim yang tepat menyikapi hari raya Natal/Tahun Baru/Non Muslim lainnya ?

Berikut nasihat dari Komisi Tetap Saudi Arabia

“Sesungguhnya nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya adalah nikmat Islam dan iman serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhadaa dan sholihin (Qs. An Nisaa :69).

Jika diperhatikan dengan teliti, maka kita dapati bahwa musuh-musuh Islam sangat gigih berusaha mema-damkan cahaya Islam, menjauhkan dan menyimpangkan ummat Islam dari jalan yang lurus, sehingga tidak lagi istiqomah.Hal ini diberitahukan sendiri oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya, diantaranya, yang artinya: “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesung-guh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. 2:109)

Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang lain, artinya: Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi beng-kok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 3:99)

Firman ALLAH (yang artinya) : ” Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta’ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi”. (QS. 3:149)

Salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agama (jalan yang lurus)yakni dengan menyeru dan mempublikasikan hari-hari besar mereka ke seluruh lapisan masyara-kat serta dibuat kesan seolah-oleh hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum dan bisa diperingati oleh siapa saja. Oleh karena itu, Komisi Tetap Urusan Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi telah memberikan fatwa berkenaan dengan sikap yang seharusnya dipegang oleh setiap muslim terhadap hari-hari besar orang kafir.Secara garis besar fatwa yang dimaksud adalah:

Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashara menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan, dan ini sangat tampak di dalam perayaan milenium baru (tahun 2000 lalu), dan sebagian besar orang sangat sibuk memperangatinya, tak terkecuali sebagian saudara kita -kaum muslimin- yang terjebak di dalamnya. Padahal setiap muslim seharusnya menjauhi hari besar mereka dan tak perlu menghiraukannya.

Perayaan yang mereka adakan tidak lain adalah kebatilan semata yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan menarik. Di dalamnya berisikan pesan ajakan kepada kekufuran, kesesatan dan kemungkaran secara syar’i seperti: Seruan ke arah persatuan agama dan persamaan antara Islam dengan agama lain. Juga tak dapat dihindari adanya simbul-simbul keagamaan mereka, baik berupa benda, ucapan ataupun perbuatan yang tujuannya bisa jadi untuk menampakkan syiar dan syariat Yahudi atau Nasrani yang telah terhapus dengan datangnya Islam atau kalau tidak agar orang menganggap baik terhadap syariat mereka, sehingga biasnya menyeret kepada kekufuran. Ini merupakan salah satu cara dan siasat untuk menjauhkan umat Islam dari tuntunan agamanya, sehingga akhirnya merasa asing dengan agamanya sendiri.

Telah jelas sekali dalil-dalil dari Al Quran, Sunnah dan atsar yang shahih tentang larangan meniru sikap dan perilaku orang kafir yang jelas-jelas itu merupakan ciri khas dan kekhususan dari agama mereka, termasuk di dalam hal ini adalah Ied atau hari besar mereka.Ied di sini mencakup segala sesuatu baik hari atau tempat yang diagung-agungkan secara rutin oleh orang kafir, tempat di situ mereka berkumpul untuk mengadakan acara keagamaan, termasuk juga di dalam hal ini adalah amalan-amalan yang mereka lakukan. Keseluruhan waktu dan tempat yang diagungkan oleh orang kafir yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, maka haram bagi setiap muslim untuk ikut mengagungkannya.

Larangan untuk meniru dan memeriahkan hari besar orang kafir selain karena adanya dalil yang jelas juga dikarenakan akan memberi dampak negatif, antara lain:
Orang-orang kafir itu akan merasa senang dan lega dikarenakan sikap mendukung umat Islam atas kebatilan yang mereka lakukan.
Dukungan dan peran serta secara lahir akan membawa pengaruh ke dalam batin yakni akan merusak akidah yang bersangkutan secara bertahap tanpa terasa.
Yang paling berbahaya ialah sikap mendukung dan ikut-ikutan terhadap hari raya mereka akan menumbuhkan rasa cinta dan ikatan batin terhadap orang kafir yang bisa menghapuskan keimanan.Ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya o-rang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. 5:51)

Dari uraian di atas, maka tidak diperbolehkan bagi setiap muslim yang mengakui Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasul, untuk ikut merayakan hari besar yang tidak ada asalnya di dalam Islam, tidak boleh menghadiri, bergabung dan membantu terselenggaranya acara tersebut.Karena hal ini termasuk dosa dan melanggar batasan Allah.Dia telah melarang kita untuk tolong-menolong di dalam dosa dan pelanggaran, sebagaimana firman Allah, (yang artinya) : “Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. 5:2)

Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti : iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis;memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan, ataupun(yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.

Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah(hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, di antaranya adalah seperti melakukan akad nikah,memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain. Keyakinan seperti ini adalah batil dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan ke-istimewaan di atas hari-hari yang lain.

Dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir, karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka.Berkaitan dengan ini Ibnul Qayim rahimahullah pernah berkata, “Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati kaha-ramannya seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka, puasa mereka dengan mengucapkan, “Selamat hari raya (dan yang semisalnya), meskipun pengucapnya tidak terjeru-mus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya daripada orang yang memberi ucapan selamat kapada peminum khamar, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid’ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah”. Demikian ucapan beliau rahimahullah!

Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari rayanya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat Radhiallaahu anhu, sebisa mungkin kita pertahan kan penggunaannya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal shahabat hingga sekarang (sudah 14 abad), selalu menggunakannya dan setiap pergantian tahun baru hijriyah ini, tidak perlu dengan mangadakan perayaan-perayaan tertentu.
Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasehati dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknatNya. Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong.

(Dinukil dari Fatwa Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi tentang Perayaan Milenium Baru tahun 2000.
Tertanda
Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh
Anggota: Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Ghadyan, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syakh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

(Dikutip dari terjemah Kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy, Edisi Indonesia, Kitab Tauhid, Penulis Dr Shalih bin Fauzan)


blog post Dimanakah Alloh
Posted in Aqidah on Dec 22, 2007 at 3:43 PM
Dimanakah Allah?


Dalam pembahasan ini kami ingin membawakan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah tentang ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala atas seluruh makhluk-Nya dan istiwa`-Nya di atas arsy-Nya. Ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala telah nyata dengan dalil-dalil Al Qur`an, As Sunnah, akal, fithrah dan ijma` ummat.

Adapun dalil dari Al Qur`an tentang ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala telah Allah subhanahu wa ta`ala firmankan dalam Al Qur`an pada delapan tempat.

1. Surat Al-A`la : 1

Sucikan nama Rabbmu Yang Paling Tinggi.

Ayat di atas merupakan dalil yang jelas bahwa Allah subhanahu wa ta`ala berada di atas semua makhluknya. Rasulullah shalallau `alaihi wasallam juga menyuruh kita untuk mengucapkan subhäna rabbiyal a`lä [Maha suci rabbku yang Maha Tinggi] pada saat sujud merupakan pengakuan atas ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala dan pengakuan rendahnya makhluk dengan bersujud.

2. Surat Al-Baqarah : 255

… dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Imam At Thabari menjelaskan tentang nama Allah subhanahu wa ta`ala [Al Aliyyu] : `Dia yang mempunyai ketinggian atas segala sesuatu dan semua berada di bawah-Nya.

Ibnu Abil Izzi Al Hanafi berkata: `Penetapan makna ketinggian ini semata-mata mengandung penetapan ketinggian secara mutlak dari segi bentuk. Bagi-Nya seluruh kesucian, ketinggian, kekuasaan, kemampuan dan ketinggian Dzat. Barangsiapa menetapkan sebagian sifat-Nya dan menafikan sebagian sifat-Nya yang lain, sungguh dia telah merendahkan Allah subhanahu wa ta`ala.

3. Surat An Nahl : 50

Mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).

Ibnu Katsir mengatakan: Allah subhanahu wa ta`ala mengkhabarkan tentang keagungan dan kebesaran serta kesombongan-Nya yang segala sesuatu tunduk kepada-Nya. Semua makhluk, baik yang hidup ataupun mati, baik yang mukalaf (makhluk yang dibebani syariat yaitu manusia dan jin) maupun malaikat, baik yang mempunyai bayangan yang menaungi kanan maupun kirinya, mereka sesungguhnya bersujud kepada Allah subhanahu wa ta`ala.

Usamah bin Taufiq Al Qashas berkata: Aku tidak menduga seorangpun yang mempunyai pengetahuan bahasa Arab yang tidak mengetahui apa yang terkandung dalam ayat ini berupa penetapan ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala, karena Allah subhanahu wa ta`ala dalam ayat ini menyebutkan para malaikat yang takut kepada rabb mereka yang berada di atas mereka. Sedangkan para malaikat itu berada di langit dan di atas kita, dan di atas mereka adalah Rabbul `Izah.

4. Surat Al Mulk : 16

Apakah kalian merasa aman terhadap Allah subhanahu wa ta`ala yang berada di langit..

Ayat ini menunjukkan ketinggian dan keberadaan Allah subhanahu wa ta`ala serta menutup jalan untuk menghilangkan atau meniadakan sifat Allah subhanahu wa ta`ala atau mentakwilnya (memalingkan makna dari lafadz dhahirnya). Dan ayat ini merupakan penentu bahwa Allah subhanahu wa ta`ala di atas langit sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya.

5. Surat Fathir : 10

…kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya…

Rasulullah shalallau `alaihi wasallam bersabda Sesungguhnya pada waktu itu dibuka pintu-pintu langit, maka aku suka amal-amal shalihku naik pada saat ini. (Riwayat Shahih Tirmidzi dan Ahmad).

Dalam hal ini Imam Nawawi mengatakan: hadits ini adalah dalil yang jelas tentang naiknya perkataan secara hakekat dengan sabdanya pada waktu itu dibuka pintu-pintu langit. Maka mengapa pintu langit dibuka? Bukankah karena naiknya perkataan tersebut kepada Allah subhanahu wa ta`ala dalam ketinggian-Nya.

6. Surat Al-Ma`arij : 4

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya (Rabbnya).

Imam At Thabari mengatakan bahwa para malaikat dan ruh (yaitu Jibril) naik kepada-Nya yaitu Allah subhanahu wa ta`ala, maka jelaslah bahwa Allah subhanahu wa ta`ala benar-benar berada dalam ketinggian.

7. Surat Al-A`raf : 54

Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.

Imam Al Qurtubi berkata dalam tafsirnya : Tak seorang pun dari salafus shalih mengingkari bahwa bersemayam-Nya Allah subhanahu wa ta`ala di atas Arsy-Nya itu secara hakikat dan pengkhususan Arsy-Nya dengan bersemayam-Nya karena Arsy adalah makhluk-Nya yang paling besar.

Ibnu Jarir dalam Sharihus Sunnah berkata : Dan cukuplah seseorang mengetahui bahwa Rabb-Nya bersemayam di atas Arsy-Nya. Barangsiapa yang memahami selain yang demikian sungguh dia telah gagal dan merugi.

8. Surat Fushilat : 6

Diturunkan dari (Tuhanmu) Yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalil-dalil tentang ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala dari Sunnah Rasulullah shalallau `alaihi wasallam.

I. Dalil dari sunnah Qauliyah

Dari Abi Said Al Khudri bahwasanya Rasulullah bersabda, Kenapa kalian tidak percaya kepadaku, sedangkan aku dipercaya oleh Dzat yang berada di atas langit yang menurunkan kepadaku khabar dari langit pada waktu pagi dan sore? (Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, An Nasai dan Baihaqi).

Dari Jabir bin Abdillah bahwasanya dia meendengar Nabi shalallau `alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa yang tidak menyayangi apa yang berada di bumi, tidak disayang oleh Dzat yang ada di atas langit. (Hadits Darimi, Adz Dzahabi dan Ath Thabrani).

Dari Abdillah bin Amr bahwa Nabi shalallau `alaihi wasallam bersabda, Rahmatillah siapa yang ada di bumi pasti kalian akan dirahmati oleh Dzat yang ada di atas langit. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Bukhari, Al Hakim dan Al Baihaqi, dishahihkan oleh Al Albani)

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi shalallau `alaihi wasallam bersabda, Apabila Allah subhanahu wa ta`ala menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepak-ngepak sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan terdengar seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memkakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena takut). Ketika dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata : Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?. Mereka menjawab : Firman Al Haq yang benar dan Dialah yang Maha Tinggi dan Maha besar…(Riwayat Bukhari, Ibnu Majjah, Ibnu Khuzaimah dan Al Baihaqi disahihkan oleh Al Albani).

Dari Abdillah bin Umar berkata, bersabda Rasulullah shalallau `alaihi wasallam, Hati-hati kalian dari doa orang yang terdzalimi, karena doa tersebut naik kepada Allah subhanahu wa ta`ala seperti bunga api (dalam riwayat lain naik ke langit). (riwayat Al Hakim, Ad Dailami dan Adz Dzahabi disahihkan oleh Al Albani).

II. Dalil-dalil dari Sunnah Fi`liyah

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shalallau `alaihi wasallam bersabda pada khutbah hari Arafah, Apakah aku sudah menyampaikan (risalahku)? Para sahabat menjawab, Ya. Kemudian Rasulullah shalallau `alaihi wasallam mengisyaratkan telunjuknya ke langit kemudian beliau menunjuk ke arah sahabat sambil bersabda, Ya, Allah saksikanlah. (Riwayat Muslim, Abu Dawud, Darimi dan Ibnu Majjah disahihkan oleh Al Albani).

Dari Anas bin Malik berkata bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid pada hari Jum`at sedang Nabi shalallau `alaihi wasallam sedan berdiri berkhutbah. Kemudian laki-laki tersebut berkata : wahai Rasulullah telah hancur harta-harta, telah putus jalan-jalan, maka berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta`ala agar menghujani kami. Kemudian Nabi shalallau `alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dan berdoa, Ya Allah hujanilah kami, Ya Allah hujanilah kami. (riwayat Bukhari dan Muslim).

III. Dalil dari Sunnah Taqririyah

Dari Mu`awiyah bin Al hakam As Shahmi berkata, Dulu aku punya kambing yang berada di antara gunung Uhud dan Al Jawaniyah yang digembalakan oleh budak perempuankau. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala membawa mangsa salah satu dari kambing gembalaan dan aku adalah seorang dari Bani Adam lalu aku marah. Kemudian aku memukulnya, lalu aku datangi Nabi shalallau `alaihi wasallam dan aku sebutkan kejadian tersebut kepadanya, Ya, Rasulullah aku lepaskankah dia? Rasulullah menjawab, panggil ia. Maka aku panggil ia. Kemudian Rasulullah menanyainya, Dimanakah Allah? Kemudian ia menjawab : `Allah subhanahu wa ta`ala di langit.` Dan siapakah aku? `Anda Rasulullah shalallau `alaihi wasallam.` Rasulullah shalallau `alaihi wasallam bersabda, Bebaskan ia karena sesungguhnya dia adalah seorang mukmin. (Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Abu Awanah, Darimi dan Baihaqi).

Al Hafidz Adz Dzahabi berkata, Dan kami berpendapat setiap orang yang ditanya dimana Allah subhanahu wa ta`ala dan dia akan segera menjawab dengan fitrahnya di langit, maka pada hadits di atas ada dua masalah:

1. Disyariatkannya pertanyaan dimana Allah subhanahu wa ta`ala

2. Jawaban bagi orang yang ditanya seperti demikian adalah, `Allah subhanahu wa ta`ala berada di atas langit`.

Al Imam Utsman Ad Darimi berkata, `Pada hadits di atas terdapat dalil bagi seseorang yang ditanya : Dimana Allah `. Dan dia tidak tahu jawabannya bahwa Allah subhanahu wa ta`ala di atas langit, maka dia bukanlah seorang mukmin.`

Ijma` ulama menyatakan bahwa ketinggian adalah sifat kesempurnaan dan kerendahan adalah sifat kekurangan. Dan semua orang yang berakal telah sepakat bahwa sifat Allah subhanahu wa ta`ala adalah sempurna.

Ijma` ulama menyatakan ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala sebagaimana dinukil oleh Ibnu Taimiyah, bahwa para salafus shalih bersepakat atas ketetapan bahwa Allah subhanahu wa ta`ala berada dalam ketinggian.

Imam Sa`ad bin Ali Az Zanjani berkata, `Dan kaum muslimin telah berkata bahwa Allah subhanahu wa ta`ala adalah Yang Maha Tinggi dan berada dalam ketinggian dan Allah subhanahu wa ta`ala pun telah memfirmankan tentang ketinggiannya dalam surat Al A`la.`

Abdullah bin Mas`ud berkata, `Al Arsy berada di atas air dan Allah subhanahu wa ta`ala berada di atas Arsy. Tidak ada yang tersembunyi atasnya sedikitpun dari amal-amal kalian.`

Ka`ab bin Al Ahbar (seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam pada jaman sahabat) berkata, `Allah subhanahu wa ta`ala berfirman dalam Taurat : Aku adalah Allah subhanahu wa ta`ala, berada di atas hamba-hamba-Ku, dan Arsy-Ku, Aku mengurus seluruh perkara hamba-KU. Tidak sedikitpun yang tersembunyi atas-Ku baik di langit maupun di bumi

TANYA :

Kami mendengar kebanyakan kaum muslimin mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana ! Apakah ucapan seperti ini sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah ? Ataukah aqidah seperti ini adalah aqidah ahlul bidah ? Apa nasehat Anda bagi yang mengatakan ucapan seperti itu ?

JAWAB :

Setiap muslim wajib memegang teguh pedoman salafus sholeh (pedoman Ahlus Sunnah Wal Jamaah ) serta menjauhi penyimpangan ahlul bidah dan pengikut hawa nafsu. Ucapan seperti yang tersebut dalam soal bukan termasuk aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Ucapan seperti itu adalah ucapan mayoritas jahmiyah, yaitu sebuah kelompok sesat pengikut Jahm bin Shofwan seorang ahli bid’ah yang sesat. Ia meniadakan sifat-sifat Allah dan nama-nama -Nya - Maha suci Allah yang memiliki Nama-Nama yang husna dan Sifat-Sifat Yang Maha Tinggi dari yang ia katakan -.

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah meyakini bahwa Allah azza wa jalla bersemayam di atas arsy sesuai dengan ke-Maha Agungan-Nya. Tidak seperti makhluk yang bersemayam di atas kendaraan atau di atas kapal dan sejenisnya. Sifat Sang Pencipta tentulah tidak sama dengan sifat makhluk-makhluk-Nya. Sebagaimana zat Allah tidak sama dengan zat makhluk-makhluk-Nya. Dalilnya firman Allah ta’ala :

1. Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy Syura : 11)

2. Dan tidaklah ada seorang pun yang serupa dengan-Nya (Al Ikhlas: 4)

3. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia. (Maryam : 65)

Di dalam Al Quran, banyak sekali ayat yang menyebutkan tentang ke-Mahatinggian Allah Azza wa jalla, diantaranya :

1. Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arsy. (Thaahaa : 5)
2. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang ada di atas mereka. (An Nahl :50)
3. Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang sholih dinaikkan-Nya. (Fathir :10)
4. Tetapi sebenarnya Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. (An Nisa : 158)
5. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang. Atau Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. (Al Mulk: 16-17)

Oleh karena itu, para pemuka madzhab Syafi’i berkata bahwa di dalam Al Quran terdapat lebih dari seribu ayat yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi atas segala makhluk-Nya dan Allah berada diatas hamba-hamba-Nya. Sedangkan yang lain mengatakan tiga ratus ayat. (silakan lihat Majmu’Fatawa 5/21)

Secara fitrah Allah telah menggariskan bahwa semua bani adam akan mengulurkan kedua tangan mereka ke langit dan menengadahkan wajah mereka ke atas ketika berdoa kepada -Nya. Seandainya Allah ada di mana-mana, maka akan kita saksikan orang-orang yang berdoa dengan mengulurkan tangannya ke bawah atau ke belakang atau ke kanan dan ke kiri.

Cobalah perhatikan ! Ucapan tersebut sangat bertentangan dengan ayat -ayat Al Quran yang jelas, bertentangan dengan As Sunnah dan bertolak belakang dengan fithrah dasar yang tidak dapat di tolak. Demikian pula, ucapan tersebut (yaitu Allah berada di mana-mana ) berarti Allah berada di tempat-tempat kotoran atau sejenisnya - Maha Tinggi Allah dari apa yang diucapkan oleh orang-orang yang jahil.-

Sangat memprihatinkan jika seorang muslim tidak tahu-menahu di mana Tuhan yang di sembahnya. Hanya kepada Allah saja tempat mengadu akan asingnya kebenaran dan hilangnya panji-panji tauhid.

Lebih mengherankan lagi ucapan tersebut bukan hanya beredar di kalangan awam, akan tetapi juga diucapkan oleh beberapa kalangan terpelajar dan para tokoh kelompok dakwah sekarang ini. Mereka begitu garang di atas mimbar, namun jika anda tanya dimana Allah? Ia akan menjawab : Allah ada di mana-mana tidak ada satu tempat pun yang luput dari-Nya. Inna lillahi wainnailaihi rajiun.

Wahai saudaraku, pegang teguhlah aqidah Salafus Sholeh, jauhilah kebodohan orang-orang jahil dan penyimpangan para pengikut kebatilan. Ketahuilah bahwa Allah `Azza wa Jalla bersemayam di atas `arsy dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tidak ada satu pun perkara yang samar atas-Nya. Pendengaran dan penglihatan -Nya meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Al Hadid : 4)

Yaitu bersama kamu dengan ilmu-Nya. Kebersamaan Allah dengan makhluknya ada dua macam, yaitu :

1. Kebersamaan umum, yaitu Allah bersama mereka dengan ilmu-Nya, seperti yang disebutkan dalam ayat di atas tadi.

2. Kebersamaan khusus, yaitu Allah bersama mereka dengan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya, seperti dalam ayat

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan. (An Nahl : 128)

Yaitu bersama mereka dengan pertolongan dan bantuan-Nya.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa kelompok yang lebih sesat dari mayoritas jahmiyah adalah Hululiyah dan wihdatul wujud. Mereka adalah orang-orang yang menyatakan bahwa Allah ada pada semua benda dan Dia adalah segala benda dan ada di mana-mana ! Maha Tinggi Allah dari kekufuran dan kekejian ucapan mereka. Cobalah perhatikan ! Tidak akan kamu dapatkan seorang yang berpikiran sehat meyakini zat Allah ada di mana-mana . Tidaklah patut bagimu mengikuti kesesatan mereka dan meninggalkan salafus sholeh, generasi yang utama, tidak akan celaka orang-orang yang mengikuti mereka.

Ketahuilah, wahai saudaraku, bahwa ada beberapa kaum muslimin yang mengatakan :

Allah berada di mana-mana ! Tapi bukan maksudnya Zat Allah ada dimana-mana, bahkan ia meyakini bahwa Allah ada di atas langit.

kami nasehatkan agar mereka mengganti ucapan tersebut agar tidak menyerupai ucapan kelompok-kelompok sesat yang Allah tidak menghendaki untuk membersihkan hati mereka. Dan hendaklah mereka tetap berpegang teguh dengan ucapan-ucapan salafus sholeh. Semoga Allah memberi hidayah kepada jalan yang lurus



RssFeed

Blogroll