login
Dennies Rossy Al Bumulo Taqobalallohu mina waminkum
Dimanakah Alloh
Posted in Aqidah on Dec 22, 2007 at 3:43 PM

Dimanakah Allah?


Dalam pembahasan ini kami ingin membawakan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah tentang ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala atas seluruh makhluk-Nya dan istiwa`-Nya di atas arsy-Nya. Ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala telah nyata dengan dalil-dalil Al Qur`an, As Sunnah, akal, fithrah dan ijma` ummat.

Adapun dalil dari Al Qur`an tentang ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala telah Allah subhanahu wa ta`ala firmankan dalam Al Qur`an pada delapan tempat.

1. Surat Al-A`la : 1

Sucikan nama Rabbmu Yang Paling Tinggi.

Ayat di atas merupakan dalil yang jelas bahwa Allah subhanahu wa ta`ala berada di atas semua makhluknya. Rasulullah shalallau `alaihi wasallam juga menyuruh kita untuk mengucapkan subhäna rabbiyal a`lä [Maha suci rabbku yang Maha Tinggi] pada saat sujud merupakan pengakuan atas ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala dan pengakuan rendahnya makhluk dengan bersujud.

2. Surat Al-Baqarah : 255

… dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Imam At Thabari menjelaskan tentang nama Allah subhanahu wa ta`ala [Al Aliyyu] : `Dia yang mempunyai ketinggian atas segala sesuatu dan semua berada di bawah-Nya.

Ibnu Abil Izzi Al Hanafi berkata: `Penetapan makna ketinggian ini semata-mata mengandung penetapan ketinggian secara mutlak dari segi bentuk. Bagi-Nya seluruh kesucian, ketinggian, kekuasaan, kemampuan dan ketinggian Dzat. Barangsiapa menetapkan sebagian sifat-Nya dan menafikan sebagian sifat-Nya yang lain, sungguh dia telah merendahkan Allah subhanahu wa ta`ala.

3. Surat An Nahl : 50

Mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).

Ibnu Katsir mengatakan: Allah subhanahu wa ta`ala mengkhabarkan tentang keagungan dan kebesaran serta kesombongan-Nya yang segala sesuatu tunduk kepada-Nya. Semua makhluk, baik yang hidup ataupun mati, baik yang mukalaf (makhluk yang dibebani syariat yaitu manusia dan jin) maupun malaikat, baik yang mempunyai bayangan yang menaungi kanan maupun kirinya, mereka sesungguhnya bersujud kepada Allah subhanahu wa ta`ala.

Usamah bin Taufiq Al Qashas berkata: Aku tidak menduga seorangpun yang mempunyai pengetahuan bahasa Arab yang tidak mengetahui apa yang terkandung dalam ayat ini berupa penetapan ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala, karena Allah subhanahu wa ta`ala dalam ayat ini menyebutkan para malaikat yang takut kepada rabb mereka yang berada di atas mereka. Sedangkan para malaikat itu berada di langit dan di atas kita, dan di atas mereka adalah Rabbul `Izah.

4. Surat Al Mulk : 16

Apakah kalian merasa aman terhadap Allah subhanahu wa ta`ala yang berada di langit..

Ayat ini menunjukkan ketinggian dan keberadaan Allah subhanahu wa ta`ala serta menutup jalan untuk menghilangkan atau meniadakan sifat Allah subhanahu wa ta`ala atau mentakwilnya (memalingkan makna dari lafadz dhahirnya). Dan ayat ini merupakan penentu bahwa Allah subhanahu wa ta`ala di atas langit sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya.

5. Surat Fathir : 10

…kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya…

Rasulullah shalallau `alaihi wasallam bersabda Sesungguhnya pada waktu itu dibuka pintu-pintu langit, maka aku suka amal-amal shalihku naik pada saat ini. (Riwayat Shahih Tirmidzi dan Ahmad).

Dalam hal ini Imam Nawawi mengatakan: hadits ini adalah dalil yang jelas tentang naiknya perkataan secara hakekat dengan sabdanya pada waktu itu dibuka pintu-pintu langit. Maka mengapa pintu langit dibuka? Bukankah karena naiknya perkataan tersebut kepada Allah subhanahu wa ta`ala dalam ketinggian-Nya.

6. Surat Al-Ma`arij : 4

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya (Rabbnya).

Imam At Thabari mengatakan bahwa para malaikat dan ruh (yaitu Jibril) naik kepada-Nya yaitu Allah subhanahu wa ta`ala, maka jelaslah bahwa Allah subhanahu wa ta`ala benar-benar berada dalam ketinggian.

7. Surat Al-A`raf : 54

Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.

Imam Al Qurtubi berkata dalam tafsirnya : Tak seorang pun dari salafus shalih mengingkari bahwa bersemayam-Nya Allah subhanahu wa ta`ala di atas Arsy-Nya itu secara hakikat dan pengkhususan Arsy-Nya dengan bersemayam-Nya karena Arsy adalah makhluk-Nya yang paling besar.

Ibnu Jarir dalam Sharihus Sunnah berkata : Dan cukuplah seseorang mengetahui bahwa Rabb-Nya bersemayam di atas Arsy-Nya. Barangsiapa yang memahami selain yang demikian sungguh dia telah gagal dan merugi.

8. Surat Fushilat : 6

Diturunkan dari (Tuhanmu) Yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalil-dalil tentang ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala dari Sunnah Rasulullah shalallau `alaihi wasallam.

I. Dalil dari sunnah Qauliyah

Dari Abi Said Al Khudri bahwasanya Rasulullah bersabda, Kenapa kalian tidak percaya kepadaku, sedangkan aku dipercaya oleh Dzat yang berada di atas langit yang menurunkan kepadaku khabar dari langit pada waktu pagi dan sore? (Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, An Nasai dan Baihaqi).

Dari Jabir bin Abdillah bahwasanya dia meendengar Nabi shalallau `alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa yang tidak menyayangi apa yang berada di bumi, tidak disayang oleh Dzat yang ada di atas langit. (Hadits Darimi, Adz Dzahabi dan Ath Thabrani).

Dari Abdillah bin Amr bahwa Nabi shalallau `alaihi wasallam bersabda, Rahmatillah siapa yang ada di bumi pasti kalian akan dirahmati oleh Dzat yang ada di atas langit. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Bukhari, Al Hakim dan Al Baihaqi, dishahihkan oleh Al Albani)

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi shalallau `alaihi wasallam bersabda, Apabila Allah subhanahu wa ta`ala menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepak-ngepak sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan terdengar seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memkakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena takut). Ketika dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata : Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?. Mereka menjawab : Firman Al Haq yang benar dan Dialah yang Maha Tinggi dan Maha besar…(Riwayat Bukhari, Ibnu Majjah, Ibnu Khuzaimah dan Al Baihaqi disahihkan oleh Al Albani).

Dari Abdillah bin Umar berkata, bersabda Rasulullah shalallau `alaihi wasallam, Hati-hati kalian dari doa orang yang terdzalimi, karena doa tersebut naik kepada Allah subhanahu wa ta`ala seperti bunga api (dalam riwayat lain naik ke langit). (riwayat Al Hakim, Ad Dailami dan Adz Dzahabi disahihkan oleh Al Albani).

II. Dalil-dalil dari Sunnah Fi`liyah

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shalallau `alaihi wasallam bersabda pada khutbah hari Arafah, Apakah aku sudah menyampaikan (risalahku)? Para sahabat menjawab, Ya. Kemudian Rasulullah shalallau `alaihi wasallam mengisyaratkan telunjuknya ke langit kemudian beliau menunjuk ke arah sahabat sambil bersabda, Ya, Allah saksikanlah. (Riwayat Muslim, Abu Dawud, Darimi dan Ibnu Majjah disahihkan oleh Al Albani).

Dari Anas bin Malik berkata bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid pada hari Jum`at sedang Nabi shalallau `alaihi wasallam sedan berdiri berkhutbah. Kemudian laki-laki tersebut berkata : wahai Rasulullah telah hancur harta-harta, telah putus jalan-jalan, maka berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta`ala agar menghujani kami. Kemudian Nabi shalallau `alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dan berdoa, Ya Allah hujanilah kami, Ya Allah hujanilah kami. (riwayat Bukhari dan Muslim).

III. Dalil dari Sunnah Taqririyah

Dari Mu`awiyah bin Al hakam As Shahmi berkata, Dulu aku punya kambing yang berada di antara gunung Uhud dan Al Jawaniyah yang digembalakan oleh budak perempuankau. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala membawa mangsa salah satu dari kambing gembalaan dan aku adalah seorang dari Bani Adam lalu aku marah. Kemudian aku memukulnya, lalu aku datangi Nabi shalallau `alaihi wasallam dan aku sebutkan kejadian tersebut kepadanya, Ya, Rasulullah aku lepaskankah dia? Rasulullah menjawab, panggil ia. Maka aku panggil ia. Kemudian Rasulullah menanyainya, Dimanakah Allah? Kemudian ia menjawab : `Allah subhanahu wa ta`ala di langit.` Dan siapakah aku? `Anda Rasulullah shalallau `alaihi wasallam.` Rasulullah shalallau `alaihi wasallam bersabda, Bebaskan ia karena sesungguhnya dia adalah seorang mukmin. (Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Abu Awanah, Darimi dan Baihaqi).

Al Hafidz Adz Dzahabi berkata, Dan kami berpendapat setiap orang yang ditanya dimana Allah subhanahu wa ta`ala dan dia akan segera menjawab dengan fitrahnya di langit, maka pada hadits di atas ada dua masalah:

1. Disyariatkannya pertanyaan dimana Allah subhanahu wa ta`ala

2. Jawaban bagi orang yang ditanya seperti demikian adalah, `Allah subhanahu wa ta`ala berada di atas langit`.

Al Imam Utsman Ad Darimi berkata, `Pada hadits di atas terdapat dalil bagi seseorang yang ditanya : Dimana Allah `. Dan dia tidak tahu jawabannya bahwa Allah subhanahu wa ta`ala di atas langit, maka dia bukanlah seorang mukmin.`

Ijma` ulama menyatakan bahwa ketinggian adalah sifat kesempurnaan dan kerendahan adalah sifat kekurangan. Dan semua orang yang berakal telah sepakat bahwa sifat Allah subhanahu wa ta`ala adalah sempurna.

Ijma` ulama menyatakan ketinggian Allah subhanahu wa ta`ala sebagaimana dinukil oleh Ibnu Taimiyah, bahwa para salafus shalih bersepakat atas ketetapan bahwa Allah subhanahu wa ta`ala berada dalam ketinggian.

Imam Sa`ad bin Ali Az Zanjani berkata, `Dan kaum muslimin telah berkata bahwa Allah subhanahu wa ta`ala adalah Yang Maha Tinggi dan berada dalam ketinggian dan Allah subhanahu wa ta`ala pun telah memfirmankan tentang ketinggiannya dalam surat Al A`la.`

Abdullah bin Mas`ud berkata, `Al Arsy berada di atas air dan Allah subhanahu wa ta`ala berada di atas Arsy. Tidak ada yang tersembunyi atasnya sedikitpun dari amal-amal kalian.`

Ka`ab bin Al Ahbar (seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam pada jaman sahabat) berkata, `Allah subhanahu wa ta`ala berfirman dalam Taurat : Aku adalah Allah subhanahu wa ta`ala, berada di atas hamba-hamba-Ku, dan Arsy-Ku, Aku mengurus seluruh perkara hamba-KU. Tidak sedikitpun yang tersembunyi atas-Ku baik di langit maupun di bumi

TANYA :

Kami mendengar kebanyakan kaum muslimin mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana ! Apakah ucapan seperti ini sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah ? Ataukah aqidah seperti ini adalah aqidah ahlul bidah ? Apa nasehat Anda bagi yang mengatakan ucapan seperti itu ?

JAWAB :

Setiap muslim wajib memegang teguh pedoman salafus sholeh (pedoman Ahlus Sunnah Wal Jamaah ) serta menjauhi penyimpangan ahlul bidah dan pengikut hawa nafsu. Ucapan seperti yang tersebut dalam soal bukan termasuk aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Ucapan seperti itu adalah ucapan mayoritas jahmiyah, yaitu sebuah kelompok sesat pengikut Jahm bin Shofwan seorang ahli bid’ah yang sesat. Ia meniadakan sifat-sifat Allah dan nama-nama -Nya - Maha suci Allah yang memiliki Nama-Nama yang husna dan Sifat-Sifat Yang Maha Tinggi dari yang ia katakan -.

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah meyakini bahwa Allah azza wa jalla bersemayam di atas arsy sesuai dengan ke-Maha Agungan-Nya. Tidak seperti makhluk yang bersemayam di atas kendaraan atau di atas kapal dan sejenisnya. Sifat Sang Pencipta tentulah tidak sama dengan sifat makhluk-makhluk-Nya. Sebagaimana zat Allah tidak sama dengan zat makhluk-makhluk-Nya. Dalilnya firman Allah ta’ala :

1. Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy Syura : 11)

2. Dan tidaklah ada seorang pun yang serupa dengan-Nya (Al Ikhlas: 4)

3. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia. (Maryam : 65)

Di dalam Al Quran, banyak sekali ayat yang menyebutkan tentang ke-Mahatinggian Allah Azza wa jalla, diantaranya :

1. Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arsy. (Thaahaa : 5)
2. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang ada di atas mereka. (An Nahl :50)
3. Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang sholih dinaikkan-Nya. (Fathir :10)
4. Tetapi sebenarnya Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. (An Nisa : 158)
5. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang. Atau Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. (Al Mulk: 16-17)

Oleh karena itu, para pemuka madzhab Syafi’i berkata bahwa di dalam Al Quran terdapat lebih dari seribu ayat yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi atas segala makhluk-Nya dan Allah berada diatas hamba-hamba-Nya. Sedangkan yang lain mengatakan tiga ratus ayat. (silakan lihat Majmu’Fatawa 5/21)

Secara fitrah Allah telah menggariskan bahwa semua bani adam akan mengulurkan kedua tangan mereka ke langit dan menengadahkan wajah mereka ke atas ketika berdoa kepada -Nya. Seandainya Allah ada di mana-mana, maka akan kita saksikan orang-orang yang berdoa dengan mengulurkan tangannya ke bawah atau ke belakang atau ke kanan dan ke kiri.

Cobalah perhatikan ! Ucapan tersebut sangat bertentangan dengan ayat -ayat Al Quran yang jelas, bertentangan dengan As Sunnah dan bertolak belakang dengan fithrah dasar yang tidak dapat di tolak. Demikian pula, ucapan tersebut (yaitu Allah berada di mana-mana ) berarti Allah berada di tempat-tempat kotoran atau sejenisnya - Maha Tinggi Allah dari apa yang diucapkan oleh orang-orang yang jahil.-

Sangat memprihatinkan jika seorang muslim tidak tahu-menahu di mana Tuhan yang di sembahnya. Hanya kepada Allah saja tempat mengadu akan asingnya kebenaran dan hilangnya panji-panji tauhid.

Lebih mengherankan lagi ucapan tersebut bukan hanya beredar di kalangan awam, akan tetapi juga diucapkan oleh beberapa kalangan terpelajar dan para tokoh kelompok dakwah sekarang ini. Mereka begitu garang di atas mimbar, namun jika anda tanya dimana Allah? Ia akan menjawab : Allah ada di mana-mana tidak ada satu tempat pun yang luput dari-Nya. Inna lillahi wainnailaihi rajiun.

Wahai saudaraku, pegang teguhlah aqidah Salafus Sholeh, jauhilah kebodohan orang-orang jahil dan penyimpangan para pengikut kebatilan. Ketahuilah bahwa Allah `Azza wa Jalla bersemayam di atas `arsy dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tidak ada satu pun perkara yang samar atas-Nya. Pendengaran dan penglihatan -Nya meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Al Hadid : 4)

Yaitu bersama kamu dengan ilmu-Nya. Kebersamaan Allah dengan makhluknya ada dua macam, yaitu :

1. Kebersamaan umum, yaitu Allah bersama mereka dengan ilmu-Nya, seperti yang disebutkan dalam ayat di atas tadi.

2. Kebersamaan khusus, yaitu Allah bersama mereka dengan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya, seperti dalam ayat

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan. (An Nahl : 128)

Yaitu bersama mereka dengan pertolongan dan bantuan-Nya.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa kelompok yang lebih sesat dari mayoritas jahmiyah adalah Hululiyah dan wihdatul wujud. Mereka adalah orang-orang yang menyatakan bahwa Allah ada pada semua benda dan Dia adalah segala benda dan ada di mana-mana ! Maha Tinggi Allah dari kekufuran dan kekejian ucapan mereka. Cobalah perhatikan ! Tidak akan kamu dapatkan seorang yang berpikiran sehat meyakini zat Allah ada di mana-mana . Tidaklah patut bagimu mengikuti kesesatan mereka dan meninggalkan salafus sholeh, generasi yang utama, tidak akan celaka orang-orang yang mengikuti mereka.

Ketahuilah, wahai saudaraku, bahwa ada beberapa kaum muslimin yang mengatakan :

Allah berada di mana-mana ! Tapi bukan maksudnya Zat Allah ada dimana-mana, bahkan ia meyakini bahwa Allah ada di atas langit.

kami nasehatkan agar mereka mengganti ucapan tersebut agar tidak menyerupai ucapan kelompok-kelompok sesat yang Allah tidak menghendaki untuk membersihkan hati mereka. Dan hendaklah mereka tetap berpegang teguh dengan ucapan-ucapan salafus sholeh. Semoga Allah memberi hidayah kepada jalan yang lurus


Comments0)


RssFeed

Blogroll

Rate this thread:
Average Rating:
Report Post as Objectionable